Thursday, November 11, 2010

Antara kita dan nyamuk


Nursi : Assalamu’alaykum anaku…
Aku : Wa’alaykummussalam Ustaz.
Nursi : Apa yang engkau renungkan itu, anakku? Bagaikan ada tanda tanya di wajahmu.
Aku : Emm...nyamuk ni Ustaz, geram juga saya dibuatnya. Tapi saya sedang pujuk hati saya untuk terima kehadirannya. Nyamuk tu gigit saya tadi. Habis darah saya.
Nursi : Oh...itu yang engkau fikrkan.
Aku : Mungkin dah rezekinyakan Ustaz.
Nursi : Engkau redhalah...ianya adalah suatu keadilan sebenarnya.
Aku : Keadilan? Kenapa Ustaz kata macam tu?
Nursi : Bukankah makhluk-makhluk kecil lain menerima dengan ikhlas gigitanmu?
Aku : Hah? Saya tak pernah pun gigit nyamuk!!
Nursi : Sabar anakku...bukankah engkau menggigit makhluk-makhluk lain seperti buah-buahan dan hampir semua binatang. Buah seperti apel, limau, tembikai, durian. Dan engkau juga gigit daging lembu, ayam, ikan, udang, burung.
Aku : Memang lah...tu kan makanan saya.
Nursi : Itulah keadilan Allah, janganlah engkau mengeluh. Ia baru satu gigitan kecil berbanding gigitan-gigitanmu yang banyak terhadap pelbagai makhluk Allah yang lain.
Aku : Oooo....Ok, insya Allah, Ustaz. Saya takkan mengeluh lagi. Kalau darah saya dah rezeki untuk nyamuk tu, saya redha.
Nursi : Alhamdulillah engkau sudah faham. Jumpa lagi ya anakku. Doakan aku. Hadiahkan Fatihah selalu kepadaku.
Aku : Insya Allah, Ustaz. Harap nanti saya dapat jumpa Ustaz lagi. Terima kasih ya, Ustaz. Assalamu’alaykum
Nursi : Wa’alaykummussalam

(Rujukan:al- Mathnawi al-'Arabi al-Nuri)
Dikongsi daripada blog sahabatku kakma


Al-alifat

(^^,)



No comments:

Post a Comment

suaramu amat ku hargai